Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label kumpulan Tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan Tugas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

STRATEGI PEMBELAJARAN


MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN  PENGEMBANGAN TEKHNIK JIGSAW DALAM PEMBELAJARAN BAHASA  
Oleh
Nurul Hikmah
         
Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran.
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa, hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Degeng (1989). Kegiatan pengupayaan ini akan mengakibatkan siswa dapat mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam setiap jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi. Gilstrap dan Martin (1975)  juga menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan siswa,  terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan strategi pembelajaran.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran, guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru.
Namun, kita sering melihat proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan kreativitas siswa. Masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode yang sudah ada atau metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru.
.
Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.
Dari hasil pengamatan saya mengenai beberapa model, saya lebih tertarik dengan model Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw, karena menurut saya model pembelajaran ini cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning”, bahwa model pembelajaran Cooperative Learning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning, untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu :
1. Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
2. Tanggung jawab perseorangan.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
3. Tatap muka.
Dalam pembelajaran Cooperative Learning setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
4. Komunikasi antar anggota.
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5. Evaluasi proses kelompok.
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Bagaimana jika model pembelajaran kooperatif ini diterapkan dalam pembelajaran bahasa?
Menurt saya model ini cocok jika digunakan dalam pembelajaran bahasa. Dengan menggunakan model ini akan membantu mempermudah para pengajar dalam menyampaikan bahan ajarnya. Apalagi dalam pembelajarn  bahasa asing. Karena pemerolehan bahasa pertama dan bahasa kedua memilki kesulitan yang berbeda. Dan tentunya pemerolehan bahasa kedua itu dinilai lebih sulit, sehingga membutuhkan kerja sama antar pihak. Baik dari pengajar ataupun dari siswa. hal ini sesuai dengan pengertian dan tujuan dari model pembelajaran kooperatif.
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa.
Untuk mencapai tujuan di atas, pembelajaran bahasa harus mengetahui prinsip-prinsip belajar bahasa yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan pembelajarannya, serta menjadikan aspek-aspek tersebut sebagai petunjuk dalam kegiatan pembelajarannya. Prinsip-prinsip belajar bahasa dapat disimpulkan sebagai berikut. siswa akan belajar bahasa dengan baik bila (1)  diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat, (2) diberi kesempatan berapstisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas, (3) bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa, (4) ia disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya menjadi bagian dari bahasa sasaran, (5) jika menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya, (6) jika diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka, dan (7) jika diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri (Aminuddin, 1994).
Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dan segala komponen yang ada di dalamnya dengan benar dan baik, tentu kita bisa mencapai tujuan dari belajar bahasa yang telah dipaparkan di atas (insyaAllah).




Strategi Pembelajaran


MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN  PENGEMBANGAN TEKHNIK JIGSAW DALAM PEMBELAJARAN BAHASA  
Oleh
Nurul Hikmah
         
Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran.
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa, hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Degeng (1989). Kegiatan pengupayaan ini akan mengakibatkan siswa dapat mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam setiap jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi. Gilstrap dan Martin (1975)  juga menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan siswa,  terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan strategi pembelajaran.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran, guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru.
Namun, kita sering melihat proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan kreativitas siswa. Masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode yang sudah ada atau metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru.
.
Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.
Dari hasil pengamatan saya mengenai beberapa model, saya lebih tertarik dengan model Pembelajaran kooperatif terutama teknik Jigsaw, karena menurut saya model pembelajaran ini cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning”, bahwa model pembelajaran Cooperative Learning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning, untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu :
1. Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
2. Tanggung jawab perseorangan.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
3. Tatap muka.
Dalam pembelajaran Cooperative Learning setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
4. Komunikasi antar anggota.
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5. Evaluasi proses kelompok.
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Bagaimana jika model pembelajaran kooperatif ini diterapkan dalam pembelajaran bahasa?
Menurt saya model ini cocok jika digunakan dalam pembelajaran bahasa. Dengan menggunakan model ini akan membantu mempermudah para pengajar dalam menyampaikan bahan ajarnya. Apalagi dalam pembelajarn  bahasa asing. Karena pemerolehan bahasa pertama dan bahasa kedua memilki kesulitan yang berbeda. Dan tentunya pemerolehan bahasa kedua itu dinilai lebih sulit, sehingga membutuhkan kerja sama antar pihak. Baik dari pengajar ataupun dari siswa. hal ini sesuai dengan pengertian dan tujuan dari model pembelajaran kooperatif.
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa.
Untuk mencapai tujuan di atas, pembelajaran bahasa harus mengetahui prinsip-prinsip belajar bahasa yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan pembelajarannya, serta menjadikan aspek-aspek tersebut sebagai petunjuk dalam kegiatan pembelajarannya. Prinsip-prinsip belajar bahasa dapat disimpulkan sebagai berikut. siswa akan belajar bahasa dengan baik bila (1)  diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat, (2) diberi kesempatan berapstisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas, (3) bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa, (4) ia disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya menjadi bagian dari bahasa sasaran, (5) jika menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya, (6) jika diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka, dan (7) jika diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri (Aminuddin, 1994).
Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dan segala komponen yang ada di dalamnya dengan benar dan baik, tentu kita bisa mencapai tujuan dari belajar bahasa yang telah dipaparkan di atas (insyaAllah).




AWK: Van Dijk


       I.            PENDAHULUAN
Topik yang saya ambil dalam penelitian ini yaitu mengenai teks pemberitaan Julia Perez “Ancam Demo Telanjang” oleh Galamedia edisi kamis 24 Februari 2011 dengan memakai konsep analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Teun Van Djik. Alasan saya memilih konsep Van Dijk ini karena buah pikiran van Dijk dinilai lebih jernih dalam merinci struktur, komponen dan unsur-unsur wacana. Selain itu, model analisis wacana kritis ini terkesan mendapat tempat tersendiri di kalangan analis wacana kritis.
Kajian ini menarik karena bersinggungan dengan berbagai aspek. Adapun aspek yang saya kaji dan analisa yaitu dari aspek obyektifitas dan ideologi yang terkandung dalam pemberitaan media cetak tersebut.
Analisis wacana yang dimaksudkan dalam tulisan ini, adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subyek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis dengan mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat di ketahui.
Untuk masyarakat, agar mengetahui bagaimana sebuah berita diproduksi sehingga diharapkan dapat lebih kritis dan selektif dalam memahami berita yang disajikan oleh sebuah media tidak selalu bersifat netral.
·         Masalah Penelitian (Berupa Pertanyaan)

    II.            LANDASAN TEORI
Analisis Wacana Kritis
Analisis wacana merupakan studi tentang struktur pesan dalam komunikasi atau telaah melalui aneka fungsi bahasa (Sobur, 2001:48). Analisis wacana lahir dari kesadaran bahwa persoalan yang terdapat dalam komunikasi bukan terbatas pada penggunaan kalimat atau bagian kalimat, fungsi ucapan, tetapi juga mencakup struktur pesan yang lebih kompleks dan inheren yang disebut wacana (Littlejohn, 1996:84). Dalam Analisis Wacana Kritis (Critical Dicourse Analysis / CDA), wacana tidak hanya dipahami sebagai studi bahasa. Bahasa dianalisis tidak hanya dari aspek kebahasaan saja, tetapi juga menghubungkannya dengan konteks. Konteks disini berarti bahasa dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu.
 III.            METODOLOGI  
 Dalam analisis wacana Van Dijk ada tiga dimensi data yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Analisis wacana Van Dijk adalah menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu kesatuan analisis. Dalam mengumpulkan ketiga dimensi tersebut saya menggunakan metode observasi langsung terhadap salah satu surat kabar Galamedia. Dengan mengamati dan me
Berdasarkan metodologi yang saya gunakan, maka dalam proses  analisisnya akan meliputi tiga struktur/tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung, yaitu:
1.      Struktur Makro, ini merupakan makna global/umum dari suatu teks yang dapat dipahami dengan melihat topik dari suatu teks. Tema wacana ini bukan hanya isi, tetapi juga sisi tertentu dari suatu peristiwa.
2.      Superstruktur, adalah kerangka suatu teks; bagaimana struktur dan elemen wacana disusun dalam teks secara utuh.
3.       Struktur Mikro, adalah makna wacana yang dapat diamati dengan menganalisis kata, proposisi, anak kalimat, parafrase yang dipakai dan sebagainya.

·         Bagaimana cara menarik kesimpulan

 IV.            DESKRIPSI DATA DAN ANALISIS DATA
A.    Deskripsi Data

Julia Perez “Ancam Demo Telanjang”
Julia perez kembali membuat ulah. Belum lagi usai kasus perseteruannya dengan Dewi Perssik, kekasih Gaston tersebut kembali mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan publik.
Hal itu diakibatkan karena dirinya merasa kesal karena hingga saat ini pemerintahbelum mengumumkan merek susu yang tercemar akibat bakteri.
Belakangan ini memang heboh kabar seputar susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacteri Sakazakii. Enterobacteri Sakazakii merupakan salah satu pathogen gram negative yang sangat mematikan pada bayi baru lahir, usia 0-6 bulan.
Lewat akun Twitter pribadinya, pelantun Belah Duren itu menuangkan kekesalannya terhadap pemerintah yang sangat lambat menangani kasus susu berbakteri. “Gue demo telanjang kalo pemerintah enggak umumkan nama-nama susu yang tercemar”, tulis Jupe pada selasa (22/2).
Aksi protes Jupe melalui akun Twitter itu sebagai bukti bahwa ia sangat peduli dengan nasib bayi-bayi yang ada di Indonesia. Jika pemerintah lambat menangani masalah ini bagaimana dengan nasib generasi penerus bangsa ini? “Aneh, masalah susu aja enggak kelar? Trus susu mana si yg ada bakteri?? Help bayi2 indonesia dong? Egois! Semoga…”, tulis Jupe lagi
Tentunya niat Jupe untuk demo telanjang bukan suatu hal yang serius. Kata-kata yang menjurus kea rah vulgar memang kerap dilontarkan Jupe. Namun, ucapan Jupe hanya di mulut, tak ada maksud lain, hanya mengungkapkan kekesalan.
Sebelumnya ketika ditanya soal mangkirnya dewi Perssik dari panggilan polisi untuk melakukan Berita Acara Perkara (BAP) terkait statusnya sebagai tersangka melalui handphone-nya, selaku pihak pelapor Jupe tak terlalu dipedulikannya. Meski mangkirnya Depe makin memperlambat proses hukum, Jupe tetap akan mengikuti proses hukum yang berlaku. “ Sebenarnya ini bukan kapasitas aku untuk menanggapi keehadiran dia. Tapi, kalau terjadi sama saya , saya pasti hadir. Kalau aku, saat dipanggil pertama dan kedua aku datang karena sebagai warga negara yang baik aku harus mengikuti proses hukum yang berlaku”, katanya.
Dia mengaku enggan mengomentari alasan ketidakhadiran Dewi. “Aku enggak tahu sama sekali , ditanyakan langsung aja, aku enggak ikutan, nanti kena lagi”, katanya. (tot/”GM”/ net)**

B.     Analisis Data
Kajian analisa
1.      Struktur Makro (Tema)
Temanya adalah kekesalan Jupe terhadap pemerintah yang lambat dalam menangani kasus susu berbakteri.
2.      Superstruktur (Tematik/ kerangka susunan)
a.       Pendahuluan
Awal berita menampilkan seorang artis kontroversial Julia Perez dengan kutipan kalimat “Gue demo telanjang kalo pemerintah enggak umumkan nama-nama susu yang tercemar”,
b.      Isi
-          Penekanan kekesalan Jupe terhadap pemerintah.
-          Cara Jupe mengekspresikan kekesalannya
-          Kecaman Jupe terhadap pemerintah
-          Kepedulian Jupe terhadap nasib bayi-bayi Indonesia
-          Pertimbangan aspirasi penulis
c.       Penutup
Dalam wacana ini diakhiri dengan pemberitaan mengenai mangkirnya Dewi Perssik dari panggilan polisi, dan bagaimana tanggapan Jupe mengenai kabar tersebut.
3.      Struktur Mikro
Struktur mikro yang menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika.
a.       Struktur Mikro Semantik (tanda atau makna eksplisit/implisit)
Adanya penonjolan informasi berita mengenai profil Jupe yang konroversial. Mulai dari kasusnya dengan Dewi persik hingga ancamannya terhadap pemerintah yang dia tulis dalam sebuah jejaring sosial.
b.      Struktur Mikro Sintaksis (bagaimana pendapat di sampaikan)
Pendapat tema disampaikan dengan menggunakan kalimat tidak langsung berupa ancaman  pada baris kalimat keempat dan kalimat tidak langsung berupa kecaman pada baris kalimat kelima yang dilontarkan oleh Jupe.
c.       Struktur Mikro Stilistik (pilihan kata yang dipakai)
-          Kata-kata yang tidak baku atau kata-kata gaul yang sering digunakan oleh Jupe.Seperti  gue, enggak, aja, dan kalo.
-          Kata-kata ilmu kedokteran, seperti Enterobacteri Sakazakii dan Patogen gram negatif.
-          Kata-kata Hukum, seperti Berita Acara Perkara (BAP)
-          Kata-kata Vulgar, seperti Telanjang.
d.      Struktur Mikro Retorika
Aspek retorika suatu wacana menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan.
Dalam pemberitaan di atas ada bebera siasat dan cara yang digunakan, diantaranya:
-          Penggunaan gaya bahasa. Seperti majas (sindiran) dan gaya bahasa yang bermakna denotatif
-          Menonjolkan kepribadian Jupe yang Kontroversial
-          Menonjolkan kekesalan Jupe terhadap pemerintah
Menonjolkan opini penulis mengenai ketidakseriusan ancaman Jupe